Minggu, 03 Januari 2016

Usaha Berbasis Budaya Hadapi MEA


"Usaha Berbasis Budaya Hadapi MEA"

Oleh : Dr. Harliantara, Drs. M.Si. *)

Menteri Koordinator bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK) Puan Maharani membuat program untuk mendorong perekonomian rakyat berbasis budaya. Langkah itu merupakan momentum yang tepat untuk menghadapi Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) dan persaingan global.
Program dinamai Gerakan Masyarakat Usaha Berbasis Budaya disingkat Gema Berbudaya. Merupakan gerakan untuk membangun usaha rakyat berbasis produk budaya sehingga memiliki daya saing sekaligus membangun karakter dan kepribadian nasional.
Salah satu langkah nyata Menko Puan untuk memasyarakatkan gerakan adalah menjadikan Sukoharjo sebagai Kabupaten Jamu. Ada dua aspek yang bisa mempercepat gerakan tersebut, yakni pelibatan UMKM secara tepat dan adanya platform customer demands more dalam berusaha. Yakni platform untuk mengakomodasi prilaku customer pada saat ini yang lebih demanding. Karena pada era sekarang ini customer terus mencari informasi dan menjadikan pengalaman yang lain untuk referensi tentang produk dan jasa.
Perikaku diatas akibat customer journey yang diperkuat konvergensi teknologi informasi dan komunikasi. Khususnya sosial media berbasis internet. Apalagi dengan perkembangan telekomunikasi ke arah LTE dan 4G semakin penting promosi usaha berbasis budaya via online.
Sistem dan strategi konektivitas nasional perlu segera mewujudkan platform yang mampu memberikan kesempatan kepada usaha berbasis budaya untuk bergabung dalam komunitas online atau dikenal dengan istilah e-Marketspace. Yang merupakan pasar virtual di mana para penjual dan pembeli menukar jasa dan barang-barang yang dilakukan secara elektronik.
Layanan e-Marketspace secara mudah mempertemukan para konsumen global dengan pelaku usaha. Juga memudahkan pertukaran informasi produk, jasa, dan pembayaran. Selain itu menyediakan infrastruktur kelembagaan atau komunitas terkait. Salah satu pihak yang telah menyiapkan sistem e-Marketspace di negeri ini adalah PT Telkom. Diharapkan dengan infrastruktur tersebut para pengusaha berbasis budaya bisa mewujudkan konten produk agregasi untuk penetrasi pasar secara efektif.
Gema Berbudaya harus bisa mentransformasikan para pengusaha berbasis budaya tidak sekedar mampu memproduksi produk yang layak di festivalkan. Tetapi produk tersebut juga mampu melahirkan nilai-nilai yang mengandung unsur human spirit. Salah satu contohnya adalah produk kerajinan keramik yang dikawinkan atau digabung dengan proses membatik. Melukis batik dengan media keramik tentunya punya keunikan dan nilai tambah tersendiri.
Belajar dari Incheon kota pusat manufaktur keramik Korea Selatan yang kini telah berhasil mentransformasikan diri menjadi entitas tourism 3.0 karena mampu mewujudkan The Incheon Ceramics Village yang merupakan wahana berkarya bagi komunitas pecinta dunia keramik. Incheon telah bertransformasi tidak sekedar melakukan ceramics festival yang merupakan level tourism 2.0. Dengan potensi budaya dan sumber daya alamnya, mestinya Indonesia tidak kalah dengan Incheon. Entitas kerajinan keramik di Indonesia sebenarnya mampu mengadakan festival kerajinan keramik yang spektakuler dengan berbagai macam motif batik yang dimiliki berbagai daerah. Pemerintah bersama entitas pengusaha keramik mestinya juga mampu membangun ceramics village berkarakter budaya Indonesia. Sehingga terwujudnya level tourism 3.0 yang melahirkan sederet nilai-nilai human spirit yang mendunia.
Daya saing untuk menghadapi MEA sangat ditentukan oleh aspek konektivitas. Aspek tersebut tidak hanya berbentuk fisik atau infrastruktur tetapi juga konektivitas kebudayaan. Masalah konektivitas suatu bangsa sangat ditentukan oleh kondisi teknologi informasi dan komunikasi (TIK) sejauh mana mampu mendukung aktivitas perekonomian dan budaya. Sehingga aplikasi dan layanan TIK menjadi inisiatif baru bagi entitas kebudayaan dan usaha. PT TELKOM sebagai salah satu pihak yang tergabung dalam APEC Business Advisory Council (ABAC) telah membuat cetak biru untuk mendongkrak indeks konektivitas nasional yang bisa menguatkan potensi lokal. Pada saat ini tingkat konektivitas di Indonesia masih rendah di kawasan Asia Tenggara. Sekedar catatan, indeks konektivitas di Malaysia telah mencapai 6,61, Thailand 3,68 dan Vietnam 2,73. Sedangkan indeks Indonesia baru 2,15. Implikasi dari rendahnya indeks konektivitas adalah produk dan konten lokal di negeri ini sering mengalami kesulitan dalam penetrasi pasar.
Para ahli komunikasi di negeri ini perlu merumuskan strategi dan sistem konektivitas nasional yang mampu mengatasi mutu, keragaman, dan kreativitas usaha berbasis budaya. Tolok ukur keberhasilan konektivitas nasional tidak sekedar dibangunnya sarana TIK di perdesaan. Tolok ukur keberhasilan harus lebih esensial yakni terkait proses kreatif dari entitas usaha berbasis kebudayaan lokal.
Menghadapi MEA sebaiknya Kementerian Pariwisata Kabinet Kerja yang dipimpin oleh Arief Yahya membuat terobosan. Hal itu untuk membenahi promosi supaya jumlah kunjungan wisatawan mancanegara atau wisman meningkat secara signifikan. Untuk mewujudkan target perlu meningkatkan konektivitas serta layanan pendukung pariwisata dan pemberian fasilitasi terhadap pengusaha berbasis budaya.
Terobosan Kementerian Pariwisata diatas sebaiknya dibiayai lewat dana Universal Services Obligation (USO ) dari perusahaan besar. Antara lain USO yang berasal dari operator telekomunikasi yang selama setahun bisa terkumpul hingga triliunan rupiah. Apalagi Menteri Arief Yahya sebelumnya menjabat dirut PT Telkom tentunya mengerti sekali terkait dana USO dari perusahaan telekomunikasi. Apalagi kini PT Telkom terus menggenjot bisnis nonseluler terkait industri kreatif dan pariwisata untuk mendongkrak kinerja keuangannya dimasa depan. Dengan demikian adanya insentif USO dari perusahaan telekomunikasi untuk pelaku usaha berbasis budaya bisa dikatakan sebagai stimulus yang akan memperkuat daya saing menghadapi MEA.
Dalam teori pengembangan ekonomi kratif, bermacam portofolio usaha berbasis budaya memerlukan transformasi kearah co-creation ( colaboration creation ). Istilah co-creation dikemukakan oleh C.K. Prahalad untuk menjelaskan cara baru dalam inovasi model bisnis. Metode baru itu menciptakan produk melalui kolaborasi perusahaan, konsumen, pemasok, dan mitra distribusi yang semuanya saling terhubung dalam sebuah jaringan inovasi.
Prahalad menekankan adanya tiga proses kunci dalam co-creation yang bisa diterapkan oleh usaha berbasis budaya. Pertama, perusahaan sebaiknya menciptakan sebuah platform yang bisa disesuaikan lebih lanjut oleh pihak lain. Kedua, memberi kesempatan kepada konsumen di dalam jaringan menyesuaikan platform agar sesuai dengan karakter atau identitas mereka. Ketiga, memujudkan komunikasi umpan balik konsumen dan memperkaya platform dengan memadukan semua usaha yang telah dilakukan oleh jaringan konsumen.
Metode co-creation semakin penting karena portofolio industri pariwisata dimasa mendatang semakin bersenyawa dengan industri kreatif, travel dan media baru atau media sosial untuk penetrasi pasar. Tak bisa dimungkiri lagi media sosial telah mendorong ekosistem co-creation semakin mencapai tahap maturitas atau matang.

*] Dosen Ilmu Komunikasi Fakultas Komunikasi dan Administrasi, Universitas Sangga Buana Bandung

Tidak ada komentar: